Fakta Terbaru Jurnalis Hilang, Pelampung Dipastikan Bukan dari Arupadhatu 1

Di tengah upaya pencarian yang intensif terhadap lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang di Selat Sunda, terungkap fakta terbaru yang mengejutkan. Temuan life jacket berwarna oranye dan pelampung putih di lokasi pencarian tidak terkait dengan perlengkapan keselamatan Kapal Arupadhatu 1, yang menjadi fokus utama pencarian. Keberadaan delapan orang ini tetap menjadi misteri, dan temuan ini hanya menambah lapisan kompleksitas dalam operasi yang sedang berlangsung.
Kepastian tentang Temuan Perlengkapan Keselamatan
Pernyataan resmi dari Kapolda Banten, Hengki, menegaskan bahwa pemeriksaan terhadap barang-barang yang ditemukan menunjukkan bahwa kedua benda tersebut tidak ada kaitannya dengan kapal yang hilang. Hal ini menjadi kabar yang cukup mengecewakan bagi tim pencari, yang berharap menemukan petunjuk lebih lanjut mengenai keberadaan Arupadhatu 1.
“Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pelampung dan life jacket yang ditemukan bukan merupakan milik dari Kapal Arupadhatu 1 yang masih dalam pencarian,” ungkap Hengki di Pos SAR Dermaga Marina Carita, menyusul laporan dari KAL Anyer I-3-64 yang melakukan penyisiran di area tersebut.
Detail Penemuan yang Mencolok
Life jacket berwarna oranye ditemukan pada koordinat 06°04’40” Lintang Selatan dan 105°45’17” Bujur Timur. Lokasi ini terletak sekitar 7,5 mil laut di sebelah barat Suar Tanjung Koneng Anyer, dan sekitar 20 mil laut dari timur laut Gunung Anak Krakatau. Selain itu, pelampung berbentuk botol berwarna putih juga terdeteksi di sekitar lokasi yang sama.
TNI AL awalnya tidak menghubungkan penemuan ini dengan rombongan jurnalis yang hilang, dan mereka meminta semua pihak untuk bersabar sambil menunggu hasil identifikasi lebih lanjut. Hasil identifikasi terkini menegaskan bahwa barang-barang ini tidak dapat digunakan sebagai petunjuk untuk menemukan keberadaan Arupadhatu 1.
Perluasan Area Pencarian
Tim SAR gabungan yang terdiri dari berbagai instansi terus memperluas area pencarian, memasuki hari keempat pada Jumat (11/09/2026). Area penyisiran kini dibagi menjadi empat sektor utama dan satu sektor khusus, dengan luas keseluruhan mencapai sekitar 3.243,7 nautical mile persegi.
Berbagai unsur laut dikerahkan dalam misi pencarian ini, termasuk:
- KN SAR Tetuka
- KN SAR Basudewa
- KRI Leuser
- KRI Kerambit
- KRI Lepu
Selain itu, pencarian juga diperkuat oleh dua unit drone thermal untuk meningkatkan efektivitas operasi. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, menyatakan bahwa perluasan dilakukan setelah evaluasi terhadap upaya pencarian sebelumnya dan mempertimbangkan kondisi di lapangan.
Tim Pencarian Multidisiplin
Penyisiran melibatkan kerjasama antara Basarnas, TNI AL, Polri, BPBD, pemerintah daerah, serta relawan dan masyarakat setempat. Namun, pencarian di sekitar pulau-pulau dekat Gunung Anak Krakatau dibayangi oleh tantangan keselamatan, terutama mengingat status gunung yang masih aktif.
Salah satu lokasi yang menjadi perhatian tim adalah Pulau Sertung, yang tidak dapat dijangkau secara langsung karena berada di kawasan berisiko akibat aktivitas vulkanik. Tim melakukan pemantauan visual dari jarak yang aman untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan.
Status Aktivitas Gunung Anak Krakatau
Badan Geologi mempertahankan status Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan, dan pendaki dilarang mendekati radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung tersebut. Ancaman seperti lontaran batu pijar, hujan abu lebat, dan potensi aliran lava menjadi perhatian utama yang harus diperhatikan.
Meski demikian, operasi pencarian tetap dilanjutkan. Kepala Basarnas, Mohammad Syafii, menyatakan bahwa fase awal operasi SAR akan dioptimalkan selama tujuh hari ke depan sebelum melakukan evaluasi bersama mengenai langkah selanjutnya.
Profil Kapal Arupadhatu 1 dan Rombongan Jurnalis
Arupadhatu 1, kapal yang membawa delapan orang, berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, pada Senin (07/09/2026) sekitar pukul 14.00 WIB. Rombongan tersebut terdiri dari lima jurnalis yang hendak melakukan peliputan tentang aktivitas Gunung Anak Krakatau, yaitu:
- M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA
- Ari Basuki dari Merdeka
- Yudhis dari iNews
- Daus dari Anadolu
- Donal, jurnalis lepas
Tiga orang lainnya adalah Warta sebagai kapten kapal, Surakman sebagai anak buah kapal, dan Heriyanto sebagai pemandu. Setelah kapal dilaporkan hilang kontak, upaya pencarian segera dilaksanakan di kawasan Selat Sunda.
Respons Pemerintah dan Upaya Pencarian
Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan Kepala Staf Angkatan Laut untuk memberikan dukungan penuh dalam upaya pencarian setelah menerima laporan tentang hilangnya kontak dari kapal tersebut. Sekretariat Kabinet mengungkapkan bahwa setidaknya sebelas kapal gabungan telah dikerahkan untuk memperkuat operasi pencarian tersebut.
Hingga pembaruan pada Jumat (11/09/2026), kapal Arupadhatu 1 beserta lima jurnalis dan tiga kru masih dalam pencarian. Sayangnya, belum ada penemuan yang terkonfirmasi berkaitan langsung dengan kapal maupun rombongan yang hilang. Tim pencarian terus berupaya dengan harapan dapat menemukan keberadaan mereka secepat mungkin.



