Tujuh Calon Ketua Umum PBNU Menjelang Muktamar ke-35, Termasuk KH. Nasaruddin Umar

Seiring dengan semakin dekatnya Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang dijadwalkan berlangsung dari 27 hingga 31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang, Jawa Timur, perbincangan tentang para calon ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) semakin hangat. Dinamika bursa calon ketua umum ini tidak hanya menarik perhatian masyarakat, tetapi juga menjadi topik hangat di berbagai platform media sosial.
Pentingnya Bursa Calon Ketua Umum PBNU
Ketertarikan publik terhadap bursa kepemimpinan PBNU sangatlah wajar. Ketua umum yang terpilih akan memegang tanggung jawab besar dalam memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia untuk periode mendatang. Kontestasi ini bukan sekadar persaingan antara individu, melainkan juga melibatkan perdebatan mengenai visi dan arah masa depan NU.
Daftar Calon Ketua Umum PBNU
Nama-nama calon ketua umum yang beredar di media sosial cukup beragam. Dari berbagai platform seperti Facebook, Instagram, hingga X, setidaknya terdapat 15 nama yang disebut-sebut sebagai calon. Namun, banyak di antara mereka yang belum mendapatkan konfirmasi resmi mengenai pencalonan mereka.
Hingga saat ini, tujuh tokoh telah muncul sebagai kandidat utama yang dapat dipetakan berdasarkan rekam jejak, gagasan, dan dukungan yang mereka miliki. Berikut adalah analisis lebih mendalam mengenai ketujuh calon tersebut:
Klaster Polarisasi Gagasan dan Kontinuitas
Di dalam klaster ini, terdapat dua tokoh yang menonjol, yaitu KH Yahya Cholil Staquf dan Prof. KH Nasaruddin Umar.
KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya)
Gus Yahya, yang lahir pada 16 Februari 1966, adalah petahana ketua umum PBNU. Ia telah menyatakan niatnya untuk kembali memimpin organisasi ini pada 22 Juli 2026. Dengan pengalaman sebagai ketua umum sebelumnya, Gus Yahya mengusung visi kontinuitas yang menekankan kemandirian organisasi. Narasi “Merawat Jagat, Membangun Peradaban” menjadi salah satu fokus utama yang ia usung, termasuk upaya untuk memperkuat posisi NU dalam diplomasi global serta menyelesaikan berbagai konflik internasional.
Prof. KH Nasaruddin Umar
Prof. KH Nasaruddin Umar, lahir pada 23 Juni 1959, menjabat sebagai Menteri Agama RI dan juga merupakan Imam Besar Masjid Istiqlal. Ia mewakili sinergi antara ulama dan teknokrat, serta membawa narasi harmoni keumatan. Dengan dukungan dari banyak cabang NU di luar Pulau Jawa, Nasaruddin Umar menawarkan gagasan desentralisasi dalam kepemimpinan NU.
Episentrum Pesantren Tradisional
Dalam klaster ini, terdapat tiga tokoh yang mengedepankan tradisi pesantren, yaitu KH Abdul Hakim Mahfudz, KH Muhammad Yusuf Chudlori, dan KH Abdul Ghaffar Rozin.
KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin)
Gus Kikin, lahir pada 17 Agustus 1958, adalah pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Kehadirannya dalam bursa calon ketua umum membawa simbol penguatan tradisi pesantren klasik, yang menjadi salah satu fondasi utama NU. Gus Kikin dikenal sebagai sosok yang sangat menghargai nilai-nilai tradisi dalam menjalankan organisasi.
KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf)
Gus Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, berusia 53 tahun dan telah menyatakan kesiapannya untuk maju setelah mendapatkan dukungan dari 23 PCNU di Jawa Tengah. Ia dikenal aktif dalam menyerap aspirasi warga NU di tingkat akar rumput dan memiliki narasi yang mendorong PBNU untuk lebih responsif terhadap isu-isu sosial, ekonomi, serta penguatan dakwah kultural.
KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin)
Gus Rozin juga turut meramaikan bursa calon ketua umum dengan menyatakan kesiapannya dalam sebuah forum silaturahmi ketua PCNU se-Jawa Tengah pada pertengahan Juli 2026. Ia mengusung perhatian pada paradigma pendidikan yang lebih adaptif bagi warga NU, dengan gagasan untuk menjembatani penguasaan khazanah kitab kuning dan tuntutan akademik serta profesionalisme masa kini.
Poros Regenerasi
Dua tokoh yang mewakili poros regenerasi adalah KH Zulfa Mustofa dan KH Abdussalam Shohib.
KH Zulfa Mustofa
KH Zulfa Mustofa, lahir pada 7 Agustus 1977, saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Umum PBNU. Ia dikenal memiliki penguasaan yang baik dalam ilmu fikih dan mampu menciptakan syair-syair berbahasa Arab secara spontan. Zulfa menawarkan perpaduan antara intelektualitas khazanah klasik dengan pendekatan organisasi yang lebih lincah dan adaptif.
KH Abdussalam Shohib (Gus Salam)
Gus Salam, yang berusia 49 tahun, adalah pengasuh Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang. Ia sering menyuarakan pentingnya mekanisme check and balances di internal NU. Menurut gagasan yang ia bawa, organisasi harus dapat menghindari jebakan pragmatisme politik, sembari tetap berpegang pada prinsip keadilan dan maslahah ammah, terutama demi kepentingan warga NU.
Menanti Arah Muktamar
Munculnya tujuh nama calon ketua umum PBNU menunjukkan bahwa bursa ini tidak sekadar menghadirkan persaingan figur. Setiap calon membawa gagasan yang berhubungan dengan arah organisasi, mulai dari kesinambungan program, penguatan peran pesantren dan pendidikan, hingga regenerasi kepemimpinan. Namun, dinamika menjelang Muktamar NU ke-35 masih sangat terbuka. Dukungan dari berbagai struktur NU di daerah, konsolidasi para kandidat, serta perkembangan politik internal organisasi akan menjadi faktor kunci dalam menentukan siapa yang akan mendapatkan mandat untuk memimpin PBNU di masa mendatang.




