Memahami konsep bertawakkal kepada Allah merupakan salah satu langkah penting dalam mendekatkan diri kepada-Nya. Dalam konteks ini, bertawakkal berarti menyerahkan segala urusan dan nasib diri kepada Allah, seperti yang tercantum dalam firman Allah dalam QS. Al-Taubah: 129. Namun, perlu dipahami bahwa bertawakkal bukan berarti menyerah tanpa melakukan usaha. Dalam artikel ini, kita akan membahas lebih jauh tentang konsep bertawakkal menurut Al-Quran dan bagaimana seharusnya kita menjalankannya.
Konsep Bertawakkal dalam Al-Quran
Al-Quran mengajarkan bahwa setiap makhluk hidup, termasuk manusia, bergantung sepenuhnya pada Allah. Bahkan dalam QS. Huud ayat 56, disebutkan bahwa setiap makhluk, termasuk hewan, sepenuhnya berada dalam pengaturan Allah. Dalam konsep ini, bertawakkal berarti menyerahkan segala urusan dan nasib diri kepada-Nya.
Salah satu pemahaman yang sering salah tentang bertawakkal adalah menganggapnya sebagai bentuk penyerahan diri tanpa usaha. Misalnya, ada beberapa orang yang memilih untuk tidak mempersiapkan diri sebelum ujian dan berharap pada keajaiban. Namun, sebenarnya, konsep bertawakkal tidaklah seperti itu.
Definisi Bertawakkal Menurut Ibnu Rajab
Ibnu Rajab, seorang ulama terkenal, mendefinisikan bertawakkal sebagai sikap hati yang sepenuhnya bergantung kepada Allah dalam mencapai kebaikan dan menghindari bahaya. Menurutnya, bertawakkal bukan hanya sekadar mengandalkan hati kepada Allah, tetapi juga harus diiringi dengan usaha. Bertawakkal tidak berarti mengabaikan sebab atau sunnatullah yang telah ditetapkan. Allah memerintahkan kita untuk berusaha sekaligus bertawakkal.
Artinya, berusaha dengan tubuh untuk mencapai sebab adalah bagian dari ketaatan kepada Allah, sedangkan bertawakkal yang dilakukan dengan hati adalah bentuk keimanan kepada-Nya. Sebagaimana Allah berfirman dalam beberapa ayat, kita diwajibkan untuk berusaha.
Bertawakkal dan Usaha dalam Kehidupan Sehari-hari
Sahl At Tusturi, seorang ulama, mengungkapkan bahwa mencela usaha berarti mencela sunnatullah, dan mencela tawakal berarti meninggalkan keimanan. Hal ini menunjukkan bahwa bertawakkal dan berusaha adalah dua konsep yang harus berjalan bersama-sama dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai contoh, Rasulullah pernah bersabda bahwa jika manusia benar-benar bertawakkal kepada Allah, Allah akan memberikan rezeki kepada mereka seperti burung yang mencari rezeki. Burung tersebut pergi mencari rezeki di pagi hari dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang.
Hal ini menunjukkan bahwa meski burung tersebut bertawakkal kepada Allah, burung tersebut tetap berusaha mencari rezekinya. Ini adalah contoh konkret bahwa usaha dan bertawakkal harus berjalan bersama dalam kehidupan sehari-hari.
Bertawakkal dan Kesyirikan
Imam Ahmad, seorang ulama besar, menjelaskan bahwa bertawakkal adalah ibadah yang berasal dari dalam hati dan harus ditujukan hanya kepada Allah. Jika seseorang bertawakkal dengan mengandalkan hati kepada selain Allah, maka hal tersebut dapat dianggap sebagai bentuk kesyirikan. Kesyirikan dalam konteks ini dapat berarti bergantung pada makhluk dalam hal yang hanya Allah yang mampu melakukannya.
Sebagai contoh, berharap pada makhluk untuk mendapatkan pengampunan atas dosa-dosanya, meraih kebaikan di akhirat, atau segera mendapatkan anak. Hal ini dianggap sebagai bentuk syirik akbar, atau syirik yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam.
Sementara itu, jika seseorang mengandalkan sebab yang telah ditentukan oleh Allah, namun ia menganggap bahwa sebab tersebut lebih dari sekadar sebab, seperti orang yang sangat tergantung pada majikannya untuk kelangsungan hidupnya, maka ini termasuk dalam kategori syirik asghar, atau syirik kecil. Namun, jika ia bersandar pada sebab dan meyakini bahwa itu hanya sekadar sebab dan bahwa Allah-lah yang menentukan hasilnya, maka tidak ada masalah dalam hal ini.
Bertawakkal dan Rezeki
Allah berfirman dalam QS. Ath Thalaaq ayat 2-3 bahwa barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, Allah pasti akan mencukupi kebutuhannya. Hal ini juga ditegaskan oleh Al-Qurtubi, seorang ulama terkenal, yang mengatakan bahwa siapa yang sepenuhnya menyerahkan urusannya kepada Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya.
Rasulullah pun pernah berkata kepada Abu Dzar bahwa jika semua manusia mengikuti nasihat ini, tentu itu akan mencukupi kebutuhan mereka. Artinya, jika manusia benar-benar bertakwa dan bertawakkal, maka Allah pasti akan memenuhi urusan dunia dan agama mereka.
Dengan demikian, memahami konsep bertawakkal kepada Allah adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan kita. Bertawakkal bukan berarti menyerah tanpa usaha, tetapi berarti berusaha sebaik mungkin sambil sepenuhnya menyerahkan hasilnya kepada Allah. Dengan begitu, kita akan mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup.

